Senin, 24 November 2008

LINTAS PERJUANGAN PUTRA PAPUA

Baca Juga :

infoalya.com 

Banyak di anatara kita yang masih belum mengenal tantang sosok yang satu ini, seorang yang begitu besar jasanya terhadap bangsa dan Negara ini, seorang yang begitu dekat dengan salah satu bapak proklamator kita Ir. Soekarno, beliau adalah J. A. Dimara.

Perjalanan suatu bangsa tidaklah terlepas dari peran serta orang-orang yang berjuang di dalamnya. Jendral Purn. Try Sutrisno mengatakan bahwa Dimara adalah seorang yang baik hati, orang yang bermasyrakat, dan salah satu pahlawan pembebasan Irian Jaya. Lebih daripada itu bapak Dimara adalah seorang putra terbaik bangsa ini yang jujur, setia, teguh, dan konsisten pada cita-cita dan idealisme perjuangan bangsanya.

J.A. Dimara lahir di di Biak, 16 April 1916, secara etimologi akar kata “DIMARA” berasal dari bahasa Tidore yang berarti “kepala kampung” jika dalam bahasa Ternate ini berarti KIMALAHA yang berarti “orang yang baik” pulau Biak sendiri tempat dimana Dimara kecil di lahirkan pertama kali di temukan oleh Schouten pada tahun 1616.

Perobekan warna biru pada bendera Belanda bukan hanya terjadi di Surabaya, di tanah Papua sana juga pernah terjadi saat pertempuran sengit antara tentara Belanda melawan pejuang Indonesia, hal ini membuktikan bahwa mulai dari Sabang sampai dengan Merauke semangat juang putra putri Indonesia terus saja bergelora, selama pertiwi masih tertindas.

J. A. Dimara membantu komodor Yos Sudarso dalam mengatur strategi perang untuk melawan Belanda, di awal pertemuan mereka berdua Yos Sudarso berkata: “saudara Dimara kami ini dari Jawa ingin menurunkan pejuang Indonesia di tanah Papua ini sekaligus ingin mengabarkan bahwa Indonesia sudah merdeka dan penjajahan sudah di hapuskan dari bumi Indonesia, jika penjajah masih berada di sini maka segala daya dan upaya harus kita kerahkan untuk memukul mundur penjajah, bagaimana keadaan tanah Papua ?”

Dimara mendengar dan bekata: “orang-orang di sini sudah mendengar tentang Merah Putih akan tetapi tidak ada gerakan, jika tuan Yos ingin menurunkan pejuang tanah air di tanah Papua, saya akan bantu dengan seluruh tenaga dan pikiran saya.”

Siasat di jalankan sesuai dengan rencana yang pada kesimpulannya tentara Indonesia berhasil masuk di tanah Papua.
FA IDO MA MA IDO FA.
MEMBERI JIKA MENERIMA - MENERIMA JIKA MEMBERI
Kalimat di atas adalah kalimat yang sering di ucapkannya, secara filosofi Dua susunan kalimat diatas mengandung arti engkau member maka aku akan menerima, aku member maka engkau akan menerima tujuan dari Dimara adalah untuk membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan karena dengan saling memberi maka segala sesuatu akan terpenuhi baik tenaga, pikiran, harapan ataupun pengetahuan. Patung/ monumen pembebasan Irian Barat di Jakarta merupakan symbol dari keseriusan putra putri Indonesia dalam mempertahankan kejayaan ibu pertiwi dara rongrongan penjajah.

Patung ini terinspirasi dari Dimara, cerita singkatnya sebagai berikut:
Seperti biasa HUT RI selalu saja di ramaikan dengan lomba-lomba serta pawai, pada pawai tahun 1962, Dimara yang baru kembali dari New York ikut serta dalam pawai tersebut. Untuk kostum ia memilih pakaian seragam tentara dengan pangkat mayor di lengkapi dengan rantai yang terputus di kedua kaki dan tangannya. Putusnya rantai menandakan bahwa tanah kelahirannya telah bebas dari penjajahan. Dimara sangat bangga menggunakan pakaian tersebut, menurutnya apa yang dia lakukan merupakan sebuah simbolis yang harus di tunjukkan kepada dunia pada umumnya dan khususnya kepada Indonesia.

Keesokan harinya presiden Soekarno memanggil Dimara, “apa yang Dimara yang lakukan kemarin itu sangat bagus, apakah itu pikiran dari Dimara ? tangan dan kaki di rantai dan sekarang terputus” Tanya pak Karno kepada Dimara. Dimara menjawab: “bapak, kita semua tahu bahwa Indonesia sekarang sudah merdeka, kita terbebas saat kita pulang dari PBB. Jawaban dari Dimara membuat soekarno kagum pada keepribadian Dimara yang benar-benar cinta pada tanah airnya. Soekarnopun berkata: “Dimara mempunyai pikiran yang tajam, saya akan membuat sebuah monumen seperti yang Dimara pawaikan kemarin, agar seluruh Indonesia tahu dan seluruh dunia juga tahu bahwa Irian Barat sudah bebas.” Mendengar ucapan presiden Soekarno itu Dimara terhenyak “saya tidak pernah berpikir sampai kearah sana.” (ucapnya setengah nada)

Setahun setelah itu, tepatnya 17 Agustus 1963 dalam peringatan HUT RI yang ke XVIII diresmikan tugu pebebasan Irian Barat di lapangan Banteng Jakarta, peresmian dilakukan ole presiden Soekarno bersama-sama dengan Ukumhearik, seorang kepala adat dari Wamena.

Ini adalah cerita singkat dari salah seorang putra pertiwi yang telah berjuang untuk mengembalikan kedaulatan NKRI, khususnya kejayaan Irian Barat.
Previous Post
Next Post

post written by:

  • 0 Comment
  • Comment

Leave your comment

[+] Silahkan tinggalkan komentar
[+] Berkomertarlah dengan santun
[+] Mohon tidak meninggalkan live link
[+] Terima kasih untuk komentar anda