Kemenbuddikdasmen Akan Mengevaluasi Tiga Kebijakan Besar

- October 29, 2014

Menbuddikdasmen Anies Baswedan siap membuat gebrakan. Dia mengaku akan mengevaluasi tiga kebijakan besar dalam bidang pendidikan, yaitu pelaksanaan ujian nasional (UN), kurikulum 2013, dan sertifikasi guru.


Seperti apa terobosannya, belum dapat saya katakan. Ada masukan dari tim transisi. Tetapi, itu masih akan dikoordinasikan dahulu dengan jajaran dalam dik-bud," katanya usai serah-terima jabatan dari Mohammad Nuh, di Jakarta, Senin.

Anies menyebutkan, ketiga kebijakan besar itu menjadi perhatian karena selama ini banyak menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

Anies berjanji segera menyelesaikannya.

Menurut Anies, persoalan pendidikan secara umum terkait dengan pemerataan akses. Banyak anak, katanya, belum mendapatkan pendidikan bermutu.

Dalam rapat perdana. Presiden Jokowi menekankan pentingnya akses pendidikan bermutu merata di seluruh Indonesia. Untuk itu, perlu dilakukan terobosan-terobosan agar anak-anak di berbagai daerah terpencil bisa mendapatkan pendidikan yang setara dengan anak-anak di perkotaan," ujarnya.

Upaya semacam itu bisa dilakukan jika ada keinginan politis, termasuk penyediaanprogram beasiswa untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Anies juga mengatakan, semua pekerjaan harus dikoordinasikan dengan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Dengan demikian, pekerjaan akan lebih terarah dan terfokus.

Menurut Anies, pemisahan Ditjen Dikti tidak perlu dikhawatirkan menutup akses bagi siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Dia memastikan, soal itu akan dikoordinasikan di bawah Menko PMK.

Anies juga menyebutkan bahwa kementerian yang dia pimpinan bukan sesuatu yang asing. "Ruangan ini bukan ruangan yang baru bagi saya. Sewaktu kelas dua SMA, saya mengikuti training dikdas di bawah (ruangan ini)," ujar Anies.

Ruangan menteri pertama yang dimasukinya adalah ruangan Menteri Pendidikan saat itu yakni Fuad Hasan. "Pak Nuh juga bukan orang yang asing bagi saya," kata dia.

Anies berterima kasih kepada jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) atas sambutannya yang hangat. "Ini hanya bagian dari rotasi. Setiap kementerian memerlukan pimpinan baru," kata Anies.

Ia mengajak pejabat Kem-dikbud untuk mensyukuri perkembangan pendidikan dan mengajak untuk memperbaiki kekurangan yang ada. "Dan, yang terpenting, kita harus kerja," katanya.

Mendikbud juga meminta bimbingan kepada pejabat di Kemdikbud untuk menun-jukkannya arah demi kemajuan pendidikan bangsa. Komitmen Anies mengevaluasi tiga kebijakan besar pendidikan memang tidak berlebihan.

Kebijakan sertifikasi guru, misalnya, terus mengundang pertentangan kalangan guru. Sebagai contoh, Senin kemarin, lebih dari 20 guru sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Jayapura, Provinsi Papua, mendatangi kantor wali kota setempat. Mereka mempertanyakan dana sertifikasi yang belum dibayarkan.

Guru-guru sejumlah SMP itu kemudian melakukan pertemuan dengan pejabat Dinas Pendidikan Kota Jayapura di ruang rapat Wakil Wali Kota pada pukul 9.30 WIT. Belasan guru berasal dari SMP Paulus Abepura, Kota Jayapura, dan selebihnya dari SMP Negeri 1 Abepura.

Di sela-sela pertemuan, Ida yang mengajar di SMP Paulus mengaku kedatangan mereka untuk memperta-nyakan dana sertifikasi tahap pertama dan kedua yang hingga kini belum dibayar.

"Sebenarnya dana sudah ada dalam daftar sertifikasi, namun pembayarannya belum dilakukan. Kami tidak tahu persoalannya apa, makanya kami datang," katanya.

Menurut dia, tidak semua guru belum menerima dana sertifikasi karena ada beberapa guru yang sudah menerima dana tersebut.

Dia mencontohkan, di SMP Paulus Abepura, tempat ia mengajar, sekitar 12 guru belum menerima anggaran itu. Meski begitu, usai pertemuan. Kepala Bidang SMA/-SMK Dinas Pendidikan Kota

Jayapura Kliford Korwa menjelaskan, pemberian dana sertifikasi itu sebenarnya sudah berjalan baik. Kedatangan guru-guru itu dikarenakan kurangnya komunikasi antara guru dan dinas pendidikan.

"Semua dana sertifikasi sudah terproses dan diserahkan. Contoh di SMP Negeri 1 Abepura yang mempermasalahkan mengapa dari sekian guru itu, tidak ada yang tersertifikasi," ujarnya.

Setelah dicek, menurut dia, temyata hanya empat orang guru yang belum tersertifikasi. Keempat orang guru itu temyata bermasalah di jam mengajar.



Share this with short URL:
Blogger
Disqus
Tinggalkan Komentar

No comments

[+] Silahkan tinggalkan komentar
[+] Berkomertarlah dengan santun
[+] Mohon tidak meninggalkan live link
[+] Terima kasih untuk komentar anda

 

ketik dan enter untuk mencari